Menua Bersama, Kakek Slamet Bonceng Istrinya Kayuh Gerobak Belasan Kilometer Berkeliling Jualan Bakso

Usia bukanlah halangan bagi pasangan lanjut usia asal Solo, Jawa Tengah, Slamet Parmin Hadiwiyono (78) dan Painem (60).
Meski sudah berusia senja, keduanya tetap berjuang bersama demi memenuhi kebutuhan di tengah kondisi ekonomi yang menghimpit.
Keduanya masih semangat berjualan bakso keliling.
 
Bermodalkan gerobak yang dijalankan dengan sepeda, Slamet memboncengkan Painem sambil menjajakan baksonya.
Kisah kedua sejoli ini rupanya telah menyita perhatian banyak warganet di media sosial Instagram.
Akun @saiff_food mengunggah foto dan video pasangan lansia itu pada 24 September 2019 lalu.
Dilansir dari Tribun Solo, kedua pasangan itu rupanya tinggal di Kenteng Baru RT 02 RW 07, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo bersama cucu mereka, Rifa'i (18).
Slamet dan Painem telah menempati rumah sederhana yang bersekat triplek itu sejak tahun 1993.
Sejak saat itu pula, keduanya memutuskan untuk menua bersama dan menyambung hidup dengan berjualan bakso.
Mereka akan mengayuh sepeda gerobaknya menempuh belasan kilometer untuk berkeliling mencari pelanggan yang telah menantinya.
Di tempat-tempat tertentu, pasutri lansia itu akan berhenti untuk mangkal.
Diantaranya di kawasan SD Kanisius Semanggi II, SD Al-Fajar Semanggi, dan Kantor Majelis Tafsir Alquran (MTA) Semanggi.
"Kami berputar-putar paling jauh di kawasan Alun-Alun Kidul Keraton Solo, Gladag, Balaikota, terkadang sampai Pasar Gedhe," tutur Painem, seperti dikutip dari Tribun Solo.
Menurut pengakuan Painem, ia dan suaminya akan selalu mendatangi titik-titik keramaian untuk berjualan.
Bahkan, bila ada acara, sepasang lansia itu bisa berjualan hingga malam hari.
"Kalau ada keramaian di Pasar Gedhe, terlebih saat ada banyak lampion, bisa pulang jam 11 malam, kadang ya jam 5 sore, kalau jualan di alun-alun biasa jam 10 malam," terang Painem.
Slamet menambahkan, ia dan istrinya tak akan berjualan jauh-jauh bila kondisi kesehatan sedang menurun.
"Kalaupun jualan, gak jauh-jauh jualannya," tutur Slamet.
Sementara untuk dagangannya sendiri, Slamet mengatakan akan membeli bahan-bahan di Pasar Gemblekan, Kecamatan Serengan, Solo.
Adapun, bahan utama yang ia gunakan untuk membuat bakso adalah daging ayam dan sapi yang sudah digiling serta tepung pati.
Setidaknya, Slamet dan Painem harus mengeluarkan uang sebesar Rp 550 ribu setiap harinya untuk membeli bahan-bahan tersebut.
Sementara penghasilan yang mereka dapatkan setiap harinya hanya Rp 600-700 ribu.
"Biasanya kami dapatnya Rp 700 ribu, ya kadang Rp 600 ribu itu pun kalau dagangannya habis," ungkap Slamet.
"Kalau dirata-rata setiap hari dapat laba bersih sekitar Rp 50 ribu," jelas Slamet.
Slamet dan Painem menghargai Rp 1.000 untuk tiap tiga buah bakso ketika berjualan di luar kawasan sekolah.
Sementara di sekolah, Rp 1.000 itu bisa mendapat empat buah bakso.
"Biasanya, kalau di sekolah itu pada beli Rp 2.000 hingga Rp 3.000 saja," ujar Slamet.
Belajar dari orang
Slamet mengaku sbelum berjualan sendiri, dirinya pernah bekerja pada seorang juragan bakso bernama Hartono.
Dari sanalah, ia belajar membuat bakso dan kemudian bisa membuka usahanya sendiri.
Slamet juga mengatakan bahwa juragannya itu pernah mengajaknya untuk berjualan bakso di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Terus dulu itu, juragan mau buka usaha bakso di Sumbawa, saya diajak tapi ndak mau, saya milih disini, buka sendiri," terangnya.
Masa awal-awal berdagang, Slamet berjualan dengan cara dipikul berkeliling Solo mulai pukul 14.00 WIB.
"Itu sekitar tahun 1970-an, dan sempat berhenti jualan dan coba untuk menjadi tukang becak," kenang Slamet.
"Terus baru stabil jualan bakso tahun 1993, dan saat itu istri juga sudah membantu jualan keliling," tambahnya. (Dwi Nur)
Artikel ini telah tayang di Sosok.ID dengan judul 26 Tahun Kayuh Gerobak Bareng, Pasangan Lansia Penjual Bakso Ini Setiap Hari Boncengan Hingga Belasan Km Demi Menyambung Hidup